Gfr8GSYiGSYoGfAiBSOlGUO9Gd==
  • Default Language
  • Arabic
  • Basque
  • Bengali
  • Bulgaria
  • Catalan
  • Croatian
  • Czech
  • Chinese
  • Danish
  • Dutch
  • English (UK)
  • English (US)
  • Estonian
  • Filipino
  • Finnish
  • French
  • German
  • Greek
  • Hindi
  • Hungarian
  • Icelandic
  • Indonesian
  • Italian
  • Japanese
  • Kannada
  • Korean
  • Latvian
  • Lithuanian
  • Malay
  • Norwegian
  • Polish
  • Portugal
  • Romanian
  • Russian
  • Serbian
  • Taiwan
  • Slovak
  • Slovenian
  • liish
  • Swahili
  • Swedish
  • Tamil
  • Thailand
  • Ukrainian
  • Urdu
  • Vietnamese
  • Welsh

ISTAC Symposium 2026 Soroti Pengembangan Ekosistem Halal di Indonesia


TANGERANG --
Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), Ahmad Haikal Hasan, menyampaikan penegasan bahwa konsep halal tidak terbatas pada dimensi keagamaan. Dalam konteks kebijakan publik dan pembangunan nasional, halal diposisikan sebagai bagian dari instrumen strategis yang memiliki keterkaitan langsung dengan penguatan ekonomi.

Pernyataan itu disampaikan Ahmad Haikal Hasan saat mewakili Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, dalam pembukaan International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) Symposium 2026. 

Kegiatan bertema “Beyond the Halal Industry: Integration of ESG Principles, Challenges and Opportunities” tersebut berlangsung di Menara Syariah, Tangerang, Banten, pada Rabu (21/1/2026), dan dihadiri oleh peserta dari kalangan akademisi, peneliti, serta pemangku kepentingan yang memiliki perhatian terhadap isu pemikiran Islam dan pembangunan peradaban.

Dalam sambutannya, Ahmad Haikal Hasan menjelaskan bahwa negara yang membangun dan mengelola ekosistem halal secara terstruktur serta memberikan perhatian serius terhadap pengembangannya berpotensi memperoleh manfaat ekonomi yang nyata. 

Menurutnya, ekosistem halal yang kuat dapat berkontribusi terhadap peningkatan kinerja ekonomi nasional melalui berbagai mekanisme yang saling berkaitan.

Ia menyampaikan bahwa halal memiliki fungsi sebagai pengungkit pertumbuhan ekonomi atau booster growth economic engine. Fungsi tersebut, sebagaimana dijelaskan dalam forum tersebut, berkaitan dengan peningkatan daya saing produk, pembukaan akses pasar yang lebih luas, serta penguatan kepercayaan konsumen. Aspek-aspek tersebut disebut relevan baik dalam konteks pasar domestik maupun dalam interaksi perdagangan di tingkat global.

Ahmad Haikal Hasan menekankan bahwa perhatian terhadap sertifikasi halal tidak hanya ditempatkan sebagai kewajiban administratif atau pemenuhan ketentuan regulasi. 

Dalam paparannya, ia menyebut bahwa sertifikasi halal merupakan bagian dari strategi untuk memperkuat posisi produk nasional di tengah persaingan pasar yang semakin terbuka. Dengan adanya sistem halal yang terkelola, produk dinilai memiliki nilai tambah yang dapat diterima oleh konsumen dari berbagai latar belakang.

“Ketika kita memiliki ekosistem halal dan menaruh perhatian secara serius pada sertifikasi halal produk, maka itu bukan hanya soal kepatuhan regulasi, tetapi menjadi pengungkit pertumbuhan ekonomi kita. Halal memiliki potensi besar untuk memperkuat daya saing produk, memperluas pasar, dan meningkatkan kepercayaan konsumen,” ujar Ahmad Haikal Hasan dalam sambutannya.

Halal sebagai Gaya Hidup

Dalam bagian lain dari penyampaiannya, Ahmad Haikal Hasan mengemukakan harapan agar pemahaman terhadap halal mengalami perluasan makna yang mencerminkan posisi halal sebagai isu lintas sektor yang dibahas dalam kerangka akademik, kebijakan, dan ekonomi.

Ia menyatakan bahwa ke depan, halal diharapkan tidak hanya dipersepsikan sebagai standar yang melekat pada produk semata, tetapi berkembang menjadi standar yang lebih tinggi dalam konteks gaya hidup. 

Melalui forum ini, Ahmad Haikal menuturkan bahwa konsep halal sebagai bagian dari diskursus tentang pembangunan ekosistem yang terintegrasi antara nilai, regulasi, dan praktik ekonomi di tingkat nasional maupun global.

Ia menjelaskan bahwa nilai-nilai halal mencakup berbagai aspek yang bersifat universal, seperti kebersihan, keamanan, kesehatan, keberlanjutan, serta kepedulian terhadap lingkungan. 

Menurutnya, prinsip-prinsip tersebut memiliki relevansi untuk diterapkan secara luas di berbagai sektor, tidak terbatas pada sektor konsumsi pangan, tetapi juga pada sektor produksi dan aktivitas ekonomi lainnya.

“Kita berharap halal ke depan dapat menjadi the highest standard for life, bukan hanya dalam konsumsi, tetapi juga dalam cara kita berproduksi, berbisnis, dan berinteraksi,” kata Ahmad Haikal Hasan dalam forum tersebut.

Type above and press Enter to search.